Tampilkan postingan dengan label megatruh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label megatruh. Tampilkan semua postingan

Jakarta.

|


Kekal hanya masalah sudut pandang saja. Mungkin bagimu, kala itu hanya satu dua jam saja. Sesuatu yang sifatnya terhitung dan selesai. Tapi bagiku saat bersamamu, sesaat atau sedikit lebih lama dari itu sama-sama kekalnya. Jika kala itu (pertemuan) menjelma pada sebuah foto, maka di selembar foto itu aku mengekalkanmu. Cetak biru profilmu, bersatu dengan kenangan yang terus me-repetisi, membuat yang terhitung menjadi tak hingga.

Caraku mengekalkanmu, seperti saat kita menikmati hujan yang menderu, lalu menjadi rindu. Besok kita kehujanan lagi dan menjadi rindu. Lalu kita memulas kuas pada kertas. Menulis surat tanpa alamat yang tak tahu akan bertemu siapa pada halaman berapa. Maka selalu ada janji yang mesti ditepati, setiap turun hujan kita menulis surat. Satu fragmen dan repetisi itulah yang kemudian menjadi cikal bakal kekekalan.

Jadi, janganlah bersedih meninggalkanku. Karena aku telah mengekalkan fragmen-fragmenmu dan merepetisinya menjadi tak hingga. Seperti hari ini aku duduk dimana, dengan siapa, menghisap aroma apa. Yang aku tahu Jakarta adalah hujanku yang menderu dan menjadi rindu. Jakarta adalah tentangmu.

Kartosuwiryo

|
Kelak di selembar prasasti kau akan menemuiku sebagai pejuang kesepian. Pendiri negara semu yang dikalahkan Arjuna.
Pada aksaranya tertulis tanggal kematianku. Pada keterangan tertulis sebagai pemberontak.

Kenang-kenanglah prasasti itu. Sebagai sempalan ayat-ayat pembelokan sejarah. Yang kalah selalu salah. Keadilan adalah milik pemenang.

Kenang-kenanglah aku sebagai Rasul tanpa ummat, raja tanpa dhampar, Presiden tanpa negara.

Aku bukan Sukarno, megalomania yang dikelilingi dayang-dayang. Aku Kartosuwiryo, murid Cokroaminoto yang bermimpi menegakkan alif lam mim.

“Kau dituding pemberontak, penarik bedil, penindas kaum lemah.”  Kata Sengkuni.
Tidak.
Aku berperang di hutan-hutan sebagai burung ababil utusan para malaikat. Aku menumpas tentara-tentara abrahah.
“Kau dituding mengacungkan pedang pada penguasa yang sah.”
Tidak.
Ini perang badarku. Aku menumpas kedzoliman. Aku menegakkan ammar makruf.

“Aku akan menangkapmu. Isi kepalamu terpenuhi kekhalifahan semu.”
Kau tak bisa menangkapku. Aku Musa yang telah menyeberangi laut terbelah.
“Aku tetap akan menangkapmu!”

Lalu seribuan tentara mengepung gubugku.
Lalu telunjukku dilumpuhkan dan mereka membakar keris Ki Dongkol dan Ki Rompang.

“Aku mengalahkanmu!” Kata Sengkuni
Kau dapat memenjarakan ragaku. Namun kekhalifahanku tetap merdeka!

Pada akhirnya aku lebih memilih moksa diujung senapan sebagai penegak syahadat, daripada menjilat kekafiran dan takluk pada berhala Nasakom. 

Diari Skizofrenia 3

|

Angin berada dalam realitas pertamanya.
Dia terlihat sedang berjalan kaki, menyusuri trotoar depan kampusnya.
Sakura menginginkan pertemuan.

Mereka akan bertemu di gedung tertinggi di kompleks itu.
Angin menyukai tempat itu.
Dia menyukai tempat-tempat tinggi.

Di satu sudut gedung tertinggi itu Sakura telah menunggu.
Agak canggung Angin menyapa Sakura.
Dibalas dengan seulas senyum sedingin lelehan es.
Membuat Angin membeku salah tingkah.
Betul-betul, pesona Sakura di realitas pertama jauh lebih sempurna dibanding realitas khayal.

"Hai Sa. Sudah lama menunggu?"
"Baru saja Gin"
Pada akhirnya bongkahan-bongkahan es itu mencair juga.
Kedua insan bercerita realitas masing-masing pasca episode Meter diatas Permukaan Laut.

Angin mengabaikan perasaannya.
Dia cenderung menekan. Dia masih terus merasa, belum saatnya perasaan itu diungkap.

Sebaliknya.
Sakura mengumbar manis kata-kata, berisi ungkapan rindu dan rasa kangen kepada Angin.
Dibumbui bualan-bualan manis, dengan tambahan frasa-frasa melankolis.

"Kamu kemana saja Gin? Aku merindukanmu tau!"
Membuat Angin ribuan kali tersipu salah tingkah.

"Aku hanya melanjutkan petualanganku Sa. Menjadi penduduk hutan, warga negara jalanan"
Jawaban klise untuk pertanyaan pembuka yang frontal.

"Gin, sekali-kali ajaklah aku dalam petualanganmu!"
Tawaran yang menarik.

"Serius?" Angin berusaha menjawab sewajarnya. Padahal senang sekali dia.
"Serius Gin. Aku menginginkan lagi episode Meter diatas Permukaan Laut. Kamu mau kan?"

Tentu saja Angin akan langsung mengiyakan permintaan itu. Aih, apasih yang nggak buat Sakura.
"Baiklah." Seulas senyum terpancar dari wajah Angin.

Satu pertemuan yang mampu menjadi anestesi rindu yang dipendam selama berminggu-minggu.
Satu pertemuan yang memberi sensasi begitu hebat. Membuat raga Angin seolah terbang hingga langit ke enambelas saking emosialnya dia hari ini.
Lebih dari itu, bualan kata manis Sakura penuh dengan harapan, mampu membuai Angin selama berhari-hari selanjutnya.
Mengakibatkan terciptanya delusi-delusi dengan intensitas yang semakin tinggi.
............
Seperti hari ini.
Satu hari pasca pertemuan.

Angin sudah hampir 2 jam jongkok diatas bangku itu. Jempol tangan kanannya digigit, tangan kirinya menyilang diatas kedua lutut.
Pandangan matanya tak berkedip. Kosong.

Dia tidak sedang tidak melakukan apa-apa.
Meskipun dia terlihat diam tanpa gerak, namun dalam pikirannya dia tengah berlari kesana kemari.

Dia sedang terjerembab dalam delusi.
Dia sedang menikmati permainan didalam pikirannya.
Masih tentang Sakura. Dalam delusinya itu Angin membuat ruang dan waktunya sendiri.
Pertemuan-pertemuan fantasi. Percakapan-percakapan khayal.
Angin sedang menikmatinya.
Setiap kata yang diucap Sakura dalam pertemuan nyata penuh dengan harapan. Memberikan kesenangan, memperdalam delusi menjadi semakin dalam.
Dia betul-betul sedang dibuai.

Diari Skizofrenia 2

|
Semua pada dasarnya berawal dari pertemuan itu. 
Pertemuan yang terlalu dipaksakan. Namun bukan atas putaran dadu atau insiden kebetulan.

Meter diatas Permukaan Laut. Adalah tempat pertemuan Angin dan Sakura. 
Saat itu Angin memiliki kepentingan yang sama dengan gadis itu. Untuk sebuah ambisi, impian, dan petualangan.

Bukan pertemuan pertama mereka. Mereka telah lama saling kenal. Hanya saja rutinitas dan pergaulan membuat kedua insan hanya sebatas kenal. Tanpa merasa perlu untuk saling mendekat.
Anginpun tiada memiliki keperluan bertemu Sakura selama waktu itu. Kecuali sebatas pertemuan-pertemuan transaksional.
 
Sejak awal Angin memang menyadari siapa dirinya. Seorang petualang dengan kehidupan kelas bawah. Sementara Sakura seratus delapan puluh derajat berada di kehidupan yang berbeda. Dengan bayang-bayang hedonisme dan foya-foya.

Hanya saja pertemuan Meter diatas Permukaan Laut itu memberi kesan yang berbeda bagi Angin.
Sakura menjadi begitu dekat, seolah-olah berada dalam jangkauan Angin. Begitu dekat dia dengan bidadari itu. Meter diatas Permukaan Laut membuat status sosial tiada lagi berlaku.

Pada awalnya hanya sapa. Namun langkah kaki yang menanjak mengalirkan kata. Kata yang mengalir semakin deras. Tiada bendungan untuk gelak dan tawa.
Angin mulai bercerita kepada bidadari itu. Dan dia mendapat tanggapan. Ah. Sakura benar-benar dalam jangkauan saat itu.

Angin puas memandangi paras sempurna Sakura. 
Keanggunan Sakura bukan hanya bualan. 
Begitu nyata kecantikan itu. Lebih anggun puluhan kali karena dibalut lanskap dataran tinggi.

Dibawanya kronologis episode Meter diatas Permukaan Laut itu sampai dataran kota Pararaton. Detil kenangan itu tak terlupakan.
Tak dapat dihindari. Semenjak itu hatinya telah terpaut pada sang perempuan surgawi.
Keterpautan itu seperti candu. Memberi sensasi pada setiap temu, sekaligus meracun sakau bila terpisah.

Hanya saja di dataran kota Pararaton realitas telah kembali. 
Angin dengan kehidupan gembelnya, dan Sakura kembali pada kehidupan jauh di seberang sana.
Perbedaan gaya hidup memisahkan hubungan.
Jangkauan itu memudar, menjauh dan semakin jauh.

Tiada temu antara keduanya, bahkan sampai berminggu-minggu.
Hanya pertemuan-pertemuan maya sekali dua terjadi. Cukup menjadi anestesi meski tak menyembuhkan rindu seutuhnya.

Namun justru dari situlah waham itu bermula.
Pertemuan-pertemuan maya itu terbawa ke kehidupan nyata Angin.
Angin seolah-olah berada di satu ruang dengan Sakura. Kata-kata tulis seolah-olah menjadi kata lisan. Gambar dua dimensi seolah-olah ekspresi emosi. Perwujudan Sakura seolah-olah dalam jangkauan.

Draft-draft persepsi itu perlahan berubah jadi khayal. Khayalan berubah jadi waham. Dan waham itu adalah realitas kedua bagi Angin.
Celakanya dia memelihara realitas palsu itu. Dan menjadikan kepalsuan itu sebagai kebenaran absolut.

Diari Skizofrenia 1

|

Angin terbangun dari duduknya.
Matanya melotot, napasnya tersengal. Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya. Angin terdiam beberapa saat, pandangannya mati di satu titik. Di titik itu, ya. Tepat di titik itu baru saja bayangan Sakura menghilang.

Semenit dia memandangi titik itu. Sampai dia berkedip.
Perlahan dia mulai tersadar. Realitasnya telah kembali.

Angin menyadari keadaannya saat ini. Jasadnya sedang terduduk jongkok di suatu siang di bangku panjang taman kota Pararaton.
Dia berpikir sejenak, memikirkan sejak kapan dan untuk alasan apa dia berada disini saat ini.

Ingatannya kembali. Dia memahami alasannya.
Rupanya sudah dua jam dia berada disini.
Angin menghela napas panjang.
Baru saja Angin mengalami waham. Ini sudah yang sekian kalinya dalam sepekan terakhir.
Dia merasakan pikirannya tak mampu lagi dikendalikan. Dia tiba-tiba tercebur dalam fantasi tanpa mampu menghindarinya.
Realitas dan delusi sudah membolak-balikkan hidupnya sebulan ini. Saat ini bahkan jarak diantara keduanya sangatlah tipis. Apa yang dialami dalam delusinya begitu nyata. Seolah-olah itulah realitas sesungguhnya.

Angin hanya mampu mendeteksi kehadirannya. Setiap kali dia mengosongkan pikiran dan pandangan, alam delusi mulai menyeretnya. Semakin kosong maka semakin kabur. Realitas dan delusi membaur. Dia kemudian benar-benar berada dalam pengaruh khayalan.
Dia bisa tersadar, tapi dia tidak pernah tahu kapan seharusnya tersadar.

Seperti hari ini.
Dia tiba-tiba terseret dalam fantasi, kemudian dengan tiba-tiba pula dia tersadarkan.
Dalam keadaan yang mengenaskan.

Angin memandangi kedua telapak tangannya. Dibalik-baliknya telapak tangan itu.
Dalam delusinya barusan dia menggenggam kedua tangan Sakura.
Baru saja dia merasakan kehadiran Sakura dengan jelas didepannya. Mereka mengobrol banyak, Angin bercerita tentang petualangannya, Sakura mendengarkan dengan antusias. Kemudian Sakura pergi. Angin melepaskan genggaman Sakura.
Benar-benar nyata.

Menyedihkan.
Angin tersadar bahwa itu semua hanyalah bualan pikirannya.
Angin mengepalkan kedua tangannya. Mencoba membunuh sisa-sisa ilusi yang masih mengikat. Ditinjunya bangku tempat dia duduk.
"Aaargh...Bangsaaaaat" Angin berteriak.
Kemudian diam. 

Perlahan Angin mulai tersenyum simpul. Semakin lama senyumnya semakin melebar hingga akhirnya tawanya pecah. Dia tertawa terbahak-bahak, keras sekali. Kemudian diam dan tersenyum kembali. Tawa yang pilu. Senyum yang aneh. Kemudian berteriak dan mengumpat entah sembarang kata. Angin tidak peduli. Dia kembali tertawa. Orang-orang melihatnya dengan pandangan aneh. Angin lebih tidak peduli.

Dia kembali berteriak.
"Brengsek. Aaaaarrgh"
Angin mengacak-acak rambutnya. 
Terlalu lelah dia dipermainkan oleh pikirannya.
Dia kesal karena tidak berdaya.

Angin bangkit. Berjalan gontai meninggalkan bangku taman.
Mukanya sayu, rambutnya acak-acakan. Pandangan matanya menyiratkan derita.
Angin benar-benar lelah dan tidak berdaya menghadapi khayalannya sendiri.
Tragis.

4. [Hostias] Nama Dalam Nisan

|


Pagi ini aku berdialog dengan Tuan Gabriel
Kamu bisa menyebut Dia Gabriel, Jibril, Molekat, atau Malaikat, terserah.
Aku menghormatinya, dengan menyebutkan gelar Alaihissalam dibelakang nama Jibril.

Di sebuah ruangan luas berwarna putih tanpa ujung.
Entahlah, aku tidak begitu yakin, apakah ini ruangan, apakah ini waktu pagi.
Ruang dan waktu tak mengikat keadaanku saat ini.

Kamu sudah tahu kan, aku mati kemarin siang.
Tadi malam aku tidak diizinkan memasuki gerbang Rhoyyan, jadi aku sampai pagi ini masih berkeliaran saja

Untungnya pagi ini Tuan Gabriel berbaik hati meluangkan waktuNya berdialog denganku.
Kukatakan saja, Dia sudah menganggur selama 14 Abad disini.
Terakhir Dia bekerja adalah saat Sang Nabi terakhir SAW masih hidup.
Sekarang semua wahyu telah turun. Jadilah Dia menganggur.
Sekali dua kali Dia turun ke Bumi. Setidaknya setahun sekali, yaitu pada malam kemuliaan. Sekadar mengamini doa-doa penduduk bumi.

3. [Lux Aeterna] Jasad yang Tertinggal

|

Aku mati siang tadi.
Dikubur dibawah gundukan tanah kering.
Hanya nama dalam nisan.

Adakah jiwaku diterima di genggaman-Nya?
Adakah sampah tiada arti ini layak disandingkan dengan jiwa-jiwa para Nabi?

Setidaknya aku masih belum tahu jawabannya.
Aku belum berhak menemui-Nya malam ini.
Bahkan Tuan Munkar dan Tuan Nakir belum ada tanda menemuiku untuk 3 pertanyaan.

Jiwaku masih melayang-layang malam ini.
Menaiki langit demi langit hingga Arsy.
Aku bertemu Noah, Ibrahim, Yusuf, Solomon.
Anehnya, mereka semua memalingkan muka ketika aku menyapanya.

Maka sampailah jiwaku pada pintu terakhir. Ar-Rhoyyan nama pintu itu.
Penjaga pintu, Tuan Gabriel menyapa jiwaku
"Wahai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya"

Belum sempat Tuan Gabriel membuka gerbang, datanglah Tuan Izrail.
"Sesungguhnya jiwa ini belum berhak memasuki pintu ini wahai Gabriel, Bahkan ia belum memasuki gerbang Al-Mizan."
Berkata lagi Tuan Izrail. "Sesungguhnya Jasad pemilik jiwa ini masih tertinggal di dunia wahai Gabriel"

Ya. Ternyata jasadku masih tertinggal.
Berpisah dimensi dengan jiwa.
Besok lusa bahkan kamu masih bisa melihatku berjalan.

Itulah jasad kosongku.
Tak usahlah kau hiraukan jasad kosong itu.
Karena memang jasad itu menunggu kematian fisik.
Hanya Tuan Izrail yang menjanjikan.


2. [Lacrimosa] Hari Kematianku

|


Katanya, orang yang hidup tanpa mimpi itu sama saja dengan orang mati yang berjalan.
Manusia tanpa mimpi, sudah bukan manusia lagi.

Kemarin aku telah memutuskan untuk mengubur semua mimpi itu.
Tidak ada lagi mimpi tersisa,
Masa depanku tiada lagi punya tujuan.

Maka hari ini adalah hari kematianku.
Aku mati hari ini, tepat diusiaku yang ke 20 lebih setengah.
Aku hari ini dikuburkan, di sebuah pemakaman sederhana bukan ditanah kelahiranku.
Tidak ada penanda, hanya nama diatas nisan.

Satu-dua kerabat yang mengantar kepergianku.
Kamu tidak hadir dalam pemakaman, begitu juga Bunga Bakung.
Tiada seorang pengiringpun yang menangisi kepergianku.

Aku mati hari ini, maret 2014.

1. [Requiem] Kuburan Mimpi

|

Hidupku penuh dengan mimpi.
Dulunya.
Mimpi-mimpi itu pernah mewarnai gugusan masa depan yang akan kujalani.
Menyenangkan punya mimpi itu.
Dia seolah-olah nyata didepanmu.
Memberimu semangat setiap gerak langkahmu.
Melambai-lambaikan asa dan menyuruhku segera meraihnya.

Hanya.
Mimpi terkadang hanya sebatas mimpi.
Satu-dua konspirasi semesta seringkali merecoki mimpimu,
Membuat mimpimu kabur begitu saja.
Itulah.

Sebagaimana ayalnya manusia,
Aku terkisah diantaranya.
Aku menjadi terlalu banyak bermimpi.
Tentang pendidikanku, masa depanku, hidupku.

Tanpa kusadari, ada Tuan-tuan seenaknya membelokkan mimpi-mimpiku.
Menuntunku ke arah yang tak pernah kuinginkan.
Sekali-dua kali aku bertahan.
Lama-kelamaan aku merasa tiada guna aku bermimpi.
Toh akhirnya akan diarahkan juga mimpiku sekehendak mereka.
Aku memang produk lembaga, kalau gagal tinggal dibuang.

Maka aku memutuskan berhenti bermimpi!
Sisa-sisa mimpiku, kularung ke Samudra,
Sebagian lainnya kukubur dengan tanah liat.
Kuberi tanda, hanya nama dalam nisan.

Pagi ini benar-benar telah kukubur semua mimpi-mimpi itu.



Kidung Puspita Megatruh

|
Aku tidak akan genggam tanganmu, ku bebaskan helai rambutmu berkibar.
Aku biarkan kau memang, untuk terbang.
Bukan salahku melepasmu tempo hari.
Pada waktu yang singkat ini, telah kuisi catatan ini dengan cerita-cerita.
Sebagai pengingat, Sebagian pelengkap, untuk kamu, Sendu.

(Radin Bahrul Alam)

Gloomy Sunday-Rezső Seress

|


It is autumn and the leaves are falling
All love has died on earth
The wind is weeping with sorrowful tears
My heart will never hope for a new spring again
My tears and my sorrows are all in vain
People are heartless, greedy and wicked
Love has died!
The world has come to its end, hope has ceased to have a meaning
Cities are being wiped out
Meadows are colored red with human blood
There are dead people on the streets everywhere
I will say another quiet prayer
People are sinners, Lord, they make mistakes
The world has ended!!!

Foto-foto Kronologis EKSEKUSI MATI Imam Kartosuwiryo

|
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Penggagas Negara Islam Indonesia, dijatuhi hukuman mati oleh Presiden--sekaligus mantan teman satu perguruannya--Soekarno.
Pelaksanaan hukuman mati dilangsungkan Pada tgl 5 September 1962 di sebuah Pulau di Utara Jakarta bernama Pulau Ubi
2 Hari lalu, Fadli Zon meluncurkan buku yang memuat foto-foto prosesi EKSEKUSI MATI sang Imam.

Berikut foto-fotonya...





Kartosuwiryo



Saat-saat terakhir bersama sang istri, Dewi Siti Kalsum










Jamuan terakhir.
Makan siang dengan menu rendang bersama istri, Dewi Siti Kalsum, dan kelima anaknya.
Dalam jamuan tersebut Kartosuwiryo tidak makan. Hanya merokok dan minum kopi.

Ask Me Anything
Follow me on Twitter
Recommend me on Google Plus
feedback