Tampilkan postingan dengan label HayuningBuwono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HayuningBuwono. Tampilkan semua postingan
"Gunung ini begitu magis Gin. Banyak hal yang tidak kamu ketahui. Banyak hal sangat membingungkan, banyak hal sangat menyeramkan. Juga ada kebudayaan unik yang mesti kamu eksplor. Tentang penduduk Kersik Tuo, Tentang mitos hobbit asli Kerinci, Suku Anak Dalam, perkebunan teh yang mengagumkan. Juga tentang penguasa rimba Kerinci Seblat. Harimau Sumatra. Jadi ini bukan sekadar pendakian." (Randy)
Siulak, Senin 1 September 2014
Aku sehari dua hari lalu bahkan tidak pernah memikirkan akan bermalam dan mengenal daerah bernama Siulak. Semua terjadi seperti arus. Dari satu orang aku mendatangi suatu tempat, bertemu orang dan diajak ke tempat yang lain. Di tempat itu aku kemudian mengikuti arus lagi. Sampai kepada sebuah tempat yang mungkin telah kami impikan sejak lama. Sebuah perjalanan dengan misi yang sama, meskipun dilalui dengan jalan memutar, membelok, menanjak, akan kami lalui. Sebuah petualangan para pria dengan berbagai karakter dan budaya. Semua dipersatukan oleh misi yang sama. Kerinci.
Siulak. Sebuah tempat yang sangat jauh, bukan destinasi wisata, bukan tempat-tempat bersejarah, mungkin. Hanya kecamatan biasa dengan kebiasaan yang khas. Sebuah tempat yang benar-benar aku tidak pernah mengenal atau berencana mendatangi sebelumnya.
Sekali lagi, mungkin aku akan tertawa suatu saat nanti. Bagaimana mungkin, di pagi ini aku terbangun, 300 km dari pembaringanku kemarin. 500 km dari pembaringanku dua hari lalu. Dan lebih dari 2000 km dari pembaringanku pekan lalu.
Tapi inilah petualangan. Semua hal bisa terjadi dalam petualangan. Semua keputusan diambil secara bijak dalam waktu yang singkat. Keputusan iya atau tidak, sekarang atau nanti menjadi sangat penting dalam mencapai sebuah tujuan pada petualangan.
Baiklah, aku tidak akan membicarakan itu lebih panjang.
Pagi ini kami sedang melakukan packing. Mengecek perlengkapan yang akan dibawa. Melengkapi yang sekiranya belum lengkap. Bang Randy dan Bang Mario dari setengah jam lalu belum kembali dari pasar. Mereka membeli tambahan logistik seperti air mineral, beras, telur, sarden, mie instan, dan beberapa botol spirtus untuk bahan bakar kompor trangia.
Akhirnya baru pada pukul 10.30 pagi semua perbekalan siap.
Sebelum kami berangkat, kami dibriefing sebentar oleh pamannya Badai. Beliau pernah mendaki Kerinci, meskipun itu sudah sangat lama, tahun 90an.
Beliau menjelaskan medan pendakian seperti apa, tempat nge-camp yang paling bagus di pos berapa, kemudian lama waktu pendakian, letak sumber air, serta estimasi jarak dari basecamp sampai puncak.
Beliau juga menjelaskan apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang selama mendaki Kerinci.
Terakhir beliau berpesan,
"Kalau bawa telur, atau apapun itu nanti sebaiknya dibungkus dengan rapat, jangan sampai ada bau menyengat yang keluar dari carrier kalian. Ingat, disana ada mitos yang sangat diyakini oleh penduduk Kerinci."
Beliau tidak membicarakan detail mengenai mitos tersebut. Kami juga sengaja menghindari percakapan mengenai mitos itu. Kami tidak akan membicarakannya disini karena itu bisa mengganggu petualangan kami dan membuat kami jadi tambah was-was serta takut tentu saja.
Tapi kami semua memahami bahwa mitos yang dimaksud adalah tentang orang pendek.
Setiap orang hidup dengan banyak kekhawatiran dan ketakutan. Seharusnya, itu bukan alasan untuk tidak berani membuka diri.
(K. Aulia R.)
Padang, Ahad 31 Agustus 2014
Aku sudah siap berangkat setelah hanya istirahat sebentar di kos Iman. Semua perkap sudah lengkap. Aku sudah memakai seragam gunung dari atas sampai bawah. Dari sepatu, carrier, baju, celana sudah style gunung. Tinggal berangkat saja. Aku kali ini menggunakan sepatu merk Caterpillar punya Iman. Sebenarnya aku sudah membawa sepatu sendiri, namun setelah melihat sepatu Iman yang terlihat lebih baik dan lebih pas, aku kepikiran untuk meminjamnya. Dan ternyata punya dia nyaman aku pakai. Iman sendiri bukan anak mapala sebenarnya, tapi dia beberapa kali mendaki gunung-gunung kecil di Padang. Ya, sekadar mencari hiburan dan mencoba-coba, begitu katanya. Perkap gunung dia juga lumayan lengkap.
Pukul 08.30 aku sudah sampai di kampus Unand. Sebuah kampus besar dan luas. Hari ini minggu, banyak mahasiswa berjalan-jalan, jogging atau olahraga lain di sekitar kampus. Aku langsung diantar Iman ke sekret svarna dwipa. Didalam sudah ada dua orang yang dengan ramah menyapaku.
"Assalamualaikum" Ujarku di depan sekret.
Seseorang menyambutku dengan senyum ramah "Waalaikumsalam. Ayo, silakan masuk. Ini pasti mas Angin ya, kawannya bang Dino?" Seorang pria gempal yang aku duga dia adalah Uda Jefri kemudian membantuku menurunkan carrier. Aku membuka sepatu.
"Iya Da. Ini uda Jefri yang aku telpon tadi kan? Salam kenal Da"
Aku kemudian duduk. Disamping Uda Jef ada orang lain. Aku menyalaminya. Memperkenalkan diri.
"Mario" Dia singkat memperkenalkan namanya.
Uda Jefri kemudian menyajikan kopi hangat kepadaku. Pagi ini memang agak mendung dan kemarin habis turun hujan, jadi suasananya dingin dan sejuk. Minum kopi dan berbagi cerita dengan kawan baru adalah cara yang menyenangkan menghabiskan pagi hari.
(K. Aulia R.)
Padang, Ahad 31 Agustus 2014
Aku sudah siap berangkat setelah hanya istirahat sebentar di kos Iman. Semua perkap sudah lengkap. Aku sudah memakai seragam gunung dari atas sampai bawah. Dari sepatu, carrier, baju, celana sudah style gunung. Tinggal berangkat saja. Aku kali ini menggunakan sepatu merk Caterpillar punya Iman. Sebenarnya aku sudah membawa sepatu sendiri, namun setelah melihat sepatu Iman yang terlihat lebih baik dan lebih pas, aku kepikiran untuk meminjamnya. Dan ternyata punya dia nyaman aku pakai. Iman sendiri bukan anak mapala sebenarnya, tapi dia beberapa kali mendaki gunung-gunung kecil di Padang. Ya, sekadar mencari hiburan dan mencoba-coba, begitu katanya. Perkap gunung dia juga lumayan lengkap.
Pukul 08.30 aku sudah sampai di kampus Unand. Sebuah kampus besar dan luas. Hari ini minggu, banyak mahasiswa berjalan-jalan, jogging atau olahraga lain di sekitar kampus. Aku langsung diantar Iman ke sekret svarna dwipa. Didalam sudah ada dua orang yang dengan ramah menyapaku.
"Assalamualaikum" Ujarku di depan sekret.
Seseorang menyambutku dengan senyum ramah "Waalaikumsalam. Ayo, silakan masuk. Ini pasti mas Angin ya, kawannya bang Dino?" Seorang pria gempal yang aku duga dia adalah Uda Jefri kemudian membantuku menurunkan carrier. Aku membuka sepatu.
"Iya Da. Ini uda Jefri yang aku telpon tadi kan? Salam kenal Da"
Aku kemudian duduk. Disamping Uda Jef ada orang lain. Aku menyalaminya. Memperkenalkan diri.
"Mario" Dia singkat memperkenalkan namanya.
Uda Jefri kemudian menyajikan kopi hangat kepadaku. Pagi ini memang agak mendung dan kemarin habis turun hujan, jadi suasananya dingin dan sejuk. Minum kopi dan berbagi cerita dengan kawan baru adalah cara yang menyenangkan menghabiskan pagi hari.
selembar daun jatuh terguling ke jalanan
selembar daun jatuh terkulai sendirian
selembar daun jatuh terisak kesepian
selembar daun jatuh terempas dari kehidupan
(Toto ST Radik)
Bandung, Selasa 3 Juli 2012
Gue bangun masih terlalu pagi. Pukul 03.30.
Semua gembelers yang numpang tidur di masjid ini masih pada tidur. Termasuk Ikki.
Hawa dingin Kota Bandung yang membuat gue bangun kepagian.
Padahal gue udah pake jaket dan kemulan sarung, tapi tetep aja, angin malam Bandung pinggiran ini masih bisa menyusup mengenai kulit dan membuat bulu kuduk berdiri.
Daripada terus-terusan gigil, mending gue gerak. Gue jalan keluar masjid, pesen teh anget segelas sama abang-abang yang jualan keliling. Abis itu badan udah mulai anget. Gue gerak ke tempat wudhu. Cuci muka dan gosok gigi. Abis itu ngambil air wudhu dan kedinginan lagi.
Shubuh masih lama, maka gue memutuskan buat sholat tahajud. Gue sholat dan salam setiap dua rakaat, trus lanjut lagi entah udah berapa kali, dan ketika takmir masjid masuk gue memutuskan menutup sholat malam pake witir 3 rakaat. Selang beberapa menit adzan Shubuh berkumandang. Semua gembel yang tidur bangun.
Habis shubuh gue ngerasain ngantuk banget. Mungkin karena semalaman gue cuma bisa tidur pulas selama tiga jam saja. Maka gue memutuskan buat tidur lagi di serambi masjid setelah taushiyah shubuh. Nggak lama gue tidur karena jelang pukul 6 pagi gue dibangunin dengan agak paksa sama petugas masjid. Semua gembel emang udah pada cabut, tinggal gue sama Ikki yang masih kelekaran di serambi masjid itu.
"Mungkin besok kami mati, tapi selama masih hidup kami akan terus berpetualang
Karena kehidupan adalah untuk berjalan dan berani berkorban, bukan untuk mencapai kehampaan derajat di ambang kematian"
(Ed-Zou)
Jogjakarta, Senin 2 Juli 2012
Petualangan bukan tentang seberapa jauh kalian berjalan. Bukan tentang seberapa banyak pulau yang telah kalian tuju. Petualangan adalah tentang seberapa dekat kalian dengan alam. Seberapa dekat kalian mengenal budaya, kebiasaan, adat, norma dan istiadat tempat-tempat yang kalian kunjungi.
Kenali budaya, kenali keberagaman, dan lihatlah, betapa Dia Maha Besar. Maha Kaya dan Maha Tinggi. Dia menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa. Berjalanlah dan jadilah rendah hati. "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."
Jogjakarta terik seperti biasanya. Musim kemarau sampai di puncaknya.
Ini masuk bulan juli. Sebentar lagi Ramadhan datang.
Kampus gue udah libur sejak pekan kemarin.
Ini saat yang tepat bagi gue melanjutkan petualangan.
Sebelum gue ceritain kelanjutan petualangan gue, gue mau nyeritain satu tokoh yang bakal banyak berperan dalam kisah petualangan gue setelah ini.
Namanya Kidon alias Ikki. Dia sahabat gue kalo backpacking. Gue sama dia udah pernah backpacking ke Cilacap, Bandung, Jakarta, Bogor, Jawa Timur, Madura, Bali, sama Lombok.
Gue udah sahabatan sama dia hampir sepuluh tahun. Sejak gue sama dia satu sekolahan di Bogor. Dia sekarang kuliah di Jakarta. Gue di Jogja. Dia orangnya cerdas, banyak akal, jagoan, egois, nggak mau kalah.
Di Sekolah gue dulu, di Bogor, kami sama-sama orang ngeyel, nggak mau diatur, sering keluar asrama tanpa izin, suka naik ke atap asrama putri, main kartu, sering ngajak debat ustadz, dan pernah di sel di Asrama yang kami beri nama Nusa kambangan.
Ini kali ketiga gue beli Tas gunung.
Pertama kali gue beli tas gunung (Carrier) ketika gue masih jadi Maba, 3 tahun lalu. Carrier yang waktu itu warnanya coklat. Baru gue pake sekali naik gunung trus nggak gue pake lagi. Kurang nyaman dan kurang kuat buat outdoor activity. Jadilah Carrier itu kemudian gue kasih ke sahabat gue, Radin.
Kedua gue beli yang mereknya Eiger, 60L. Pas beli Carrier ini gue mulai tahu jenis-jenis carrier yang kuat dan nyaman itu gimana. Carrier ini gue sebut Blue Ransel. Alesannya selain karena warnanya biru, gue pake istilahnya Gol A. Gong dalam buku legendarisnya, Balada Si Roy.
Dalam novel itu, tokoh utamanya, Si Roy setiap berpetualang selalu membawa tas gunung warna biru yang dia beri nama blue ransel. Blue Ransel gue ini bertahan selama 2 tahun. Banyak cerita yang bisa gue tulis tentang blue ransel ini. Udah gue pake naik gunung 5 atau 6 kali. Gue pake backpacking sampe Sumatra selama 14 hari. Gue pake Backpacking sampe Lombok selama 11 hari.
Pertama kali gue beli tas gunung (Carrier) ketika gue masih jadi Maba, 3 tahun lalu. Carrier yang waktu itu warnanya coklat. Baru gue pake sekali naik gunung trus nggak gue pake lagi. Kurang nyaman dan kurang kuat buat outdoor activity. Jadilah Carrier itu kemudian gue kasih ke sahabat gue, Radin.
Kedua gue beli yang mereknya Eiger, 60L. Pas beli Carrier ini gue mulai tahu jenis-jenis carrier yang kuat dan nyaman itu gimana. Carrier ini gue sebut Blue Ransel. Alesannya selain karena warnanya biru, gue pake istilahnya Gol A. Gong dalam buku legendarisnya, Balada Si Roy.
Dalam novel itu, tokoh utamanya, Si Roy setiap berpetualang selalu membawa tas gunung warna biru yang dia beri nama blue ransel. Blue Ransel gue ini bertahan selama 2 tahun. Banyak cerita yang bisa gue tulis tentang blue ransel ini. Udah gue pake naik gunung 5 atau 6 kali. Gue pake backpacking sampe Sumatra selama 14 hari. Gue pake Backpacking sampe Lombok selama 11 hari.
Lihatlah sekitarmu!
Mereka itulah yang dimaksud dengan ‘orang yang berbeda’
Lihatlah orang-orang asing itu!
(Ammar)
Pekanbaru, Ahad 5 Februari 2012
Masih pagi betul waktu itu. Gue udah bangun karena hari ini gue akan melanjutkan petualangan ke sebuah daerah yang sangat terpencil di Provinsi Riau ini. Jarak dari sini lebih dari 100 Km.
Meskipun terpencil, tapi daerah itu terkenal menghasilkan kelapa sawit. Bahkan terhitung salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di provinsi ini.
Nama daerah itu adalah Kandis. Masuknya Kabupaten Siak, Provinsi Riau.
Di daerah itu tinggallah salah satu kerabat dekat gue.
Gue berangkat bareng 2 orang kakak sepupu yang sudah berkeluarga. Yang satu emang niat mau kesana buat benerin jaringan listrik rumah saudara gue, yang satu hanya pengen silaturahmi sama nganterin gue.
Di jalanan kadang gerimis, kami anak siang ngiup di beranda rumah orang
Mengeringkan badan mengganti kulit dengan baju yang baru, membuang yang lama.
Hari sudah sore.
Kami masih dijalan kala itu. Keadilan sudah pulang.
Kami masih kelayapan.
(Radin Bahrul Alam)
Sekiranya ada sepuluh hari gue di pekanbaru.
di hari-hari pertama kedatangan, gue habiskan buat melaksanakan perintah bapak, mengunjungi kerabat dan sahabat bapak.
Meskipun banyak diantara mereka yang nggak gue kenal, gue nggak keberatan. Karena menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang dicintai oleh orangtua kita merupakan suatu bentuk amal bakti anak kepada orangtua.
“Bentuk kebaktian kepada orang tua yang paling tinggi, menyambung hubungan dengan orang yang dicintai ayahnya, setelah ayahnya meninggal.” (HR. Muslim no. 2552)
Tiga hari sudah gue keliling.
Semua orang dalam daftar yang dikasih bapak sudah gue kunjungi.
Kecuali Satu orang yang nggak sempat gue kunjungi.
Karena sahabat bapak itu, sekarang udah jadi wakil wali kota.
Dan saat ini beliau lagi sibuk karena baru dilantik hitungan beberapa hari lalu.
Bus mulai jalan. Melalui lintas Timur Sumatra. Jalanan
Palembang-Betung terhitung mulus, lebar, dan ramai lancar. Pemandangan sekitar
masih rumah-rumah penduduk. Gue belum merasakan atmosfir hutan hujan tropis
sejauh ini.
Dalam perjalanan, supirnya ternyata lagi galau.
Diputarlah sama si sopir, lagu-lagu melayu, cocok buat yang
lagi galau level dewa. Lagu-lagu macam burung
camar, cindai, suci dalam debu, sama
sejumlah lagu (kaga apal gue), yang
pokoknya bahasanya melayu, mendayu-dayu, dan ngenes banget maknanya.
Parahnya lagi, sopirnya nyetir sambil nyanyi, diiringi
kondektur, sama sejumlah penumpang warga lokal, suaranya kenceng.
Sebenernya sah-sah aja. Cuma, yang gue takutin sih pas lagi
nyetir macam tu, tiba-tiba emosi supirnya langsung anjlog gara-gara ndenger
lagu ngenes gitu, galaunya memuncak, trus nyetirnya ngga konsen, dan busnya
jatuh ke jurang. Omg-omg... Semoga enggak deh.
Yah, daripada ngikutin alur kegalauan yang makin lama makin
bikin suasana bus jadi suram, gue pasang earphone. Sendirian ndengerin
lagu-lagu cadas, A7X.
Sambil dengerin lagu, gue liat pemandangan sekitar. Yang
semakin lama sepertinya mulai memasuki kawasan ‘hijau’. Ketika itu bus berjalan
amat lambat. Dan tertujulah pandangan gue ke arah suatu peristiwa diluar kaca
jendela. Suatu keadaan miris yang gue selalu berdoa, semoga hidup gue nggak
berakhir seburuk itu.
Apa pasal.
Gue melihat bangkai anjing, mati dengan keadaan yang sangat
buruk, tubuh yang kurus kering, dengan luka disekujur tubuh, mati tergeletak
tak terurus, terbuang dari lingkungannya, digerogoti cacing, dikerubuti lalat, tiada
seorangpun peduli, bahkan untuk sekadar menguburkannya. Parahnya lagi, bangkai
itu menimbulkan bau yang sangat menyengat, bahkan tercium sampai tempat duduk
gue. Sepertinya sudah 2-3 hari makhluk itu mati.
Betapa buruknya cara makhluk itu mati. Semoga kita tidak
mati dengan cara seperti itu. Semoga kita semua nanti mati dengan baik-baik,
khusnul khotimah. Amin.
Jam 2.30 siang.
Bus berhenti. Sopir bilang istirahat setengah jam.
Gue turun. Blue Ransel
kali ini gue tinggal di dalam bus.
Gue belum sholat dhuhur. Jadi gue memutuskan untuk mencari
mushola terdekat. Sholat dhuhur-ashar, jamak-qoshor. Lepas itu gue mencari
warung. Makan siang dan kemudian beli snack-snack ringan yang akan gue nikmati
nanti di dalam bus.
Bus berangkat. Lima belas menit terlambat dari yang
dijanjikan sopir. Perjalanan mulai “menyenangkan”. Jalanan berliku khas jalur
timur Sumatra mulai terlihat. Meskipun tidak naik-turun seperti jalur barat.
Tapi tetep aja, didalem bus suasana masih gloomy,
lagu Melayu galau masih mendominasi.
Sepanjang jalan, kehidupan penduduk di kiri-kanan jalan masih sangat
sederhana. Rumah-rumah transmigrasi, bangunan belasan tahun lalu, belum banyak
yang berubah. Rumah sederhana bertembok papan kayu, struktur bangunan rendah,
dan berlantai tanah liat dengan satu-dua jendela yang juga terbuat dari papan
kayu tanpa cat.
Satu hal lagi yang menjadi ciri khas lintas timur Sumatra, pipa-pipa
besi berjumlah tiga buah, mengular sepanjang jalur timur ini. Entah apa isi
didalamnya, minyak, gas, atau air. Yang jelas pipa ini sudah mengular sejak
keberangkatan bus dari Palembang. Mungkin 100-200 kilometer sudah lebih. Dan
sepertinya pipa ini masih sangat panjang didepan sana.
Produk Orde Baru emang greget.
Masih banyak catatan yang kosong
Dari sekian banyak kehidupan
Masih saja diam berdiri
Bila memang menyenangkan
(Radin Bahrul Alam)
Lampung-Palembang, Ahad 29 Januari 2012
Gue tidur lumayan nyenyak semalam. Walaupun cuma sekitar 3 jam. Tubuh gue udah lumayan fresh buat melanjutkan perjalanan.
Gue harus berterima kasih sama "Satpam Songong" semalem karena dia bener-bener buktiin janjinya buat melindungi orang-orang stasiun.
Karena sebagun dari tidur gue denger kalau semalem ada pencuri yang ketangkep di Stasiun ini.
Pagi belum datang. Adzan Subuhpun belum terdengar.
Lantunan ayat suci agak keras terdengar dari arah pintu masuk. Gue memutuskan mencari sumber suara tersebut.
Gue angkat blue ransel dan gue keluar dari stasiun. Ternyata ada masjid besar 50 meter di depan stasiun ini.
Gue membatin sendiri.."Lah..ternyata disini ada masjid segede ini to? kok semalem gue nggak nyadar ya?
Pantesan aja di stasiun nggak ada mushola. Ternyata ada masjid gede di depannya. tau gini gue nginep aja di masjid ini."
Dengarlah Tuhan apa yang dibisikkan
Berandal malam di bangku terminal
Sedetik ingatnya seribu angannya
Dambakan malam terus berbintang
Iwan Fals
Lampung, Sabtu 28 Januari 2012
Akhirnya gue menginjakkan kaki di tanah ini. Sumatra.
Ini pulau tempat gue dilahirkan belasan tahun lalu.
Sudah begitu malam ketika gue sampai di Bakauheni. Lewat jam delapan mungkin.
Ini daerah yang begitu asing bagi gue.
Gue ragu, antara naik bus sekarang sampai pusat kota, atau menunggu pagi dan melanjutkan jalan besok saja.
Sepanjang koridor pelabuhan, gue sedikit gentar rupanya. Bakauheni ini pelabuhan, namun tak seramai Pelabuhan Merak di tanah jawa. Disini gelap, kanan-kiri banyak pohon-pohon besar. Hanya satu dua lampu menerangi.
Berandal malam di bangku terminal
Sedetik ingatnya seribu angannya
Dambakan malam terus berbintang
Iwan Fals
Lampung, Sabtu 28 Januari 2012
Akhirnya gue menginjakkan kaki di tanah ini. Sumatra.
Ini pulau tempat gue dilahirkan belasan tahun lalu.
Sudah begitu malam ketika gue sampai di Bakauheni. Lewat jam delapan mungkin.
Ini daerah yang begitu asing bagi gue.
Gue ragu, antara naik bus sekarang sampai pusat kota, atau menunggu pagi dan melanjutkan jalan besok saja.
Sepanjang koridor pelabuhan, gue sedikit gentar rupanya. Bakauheni ini pelabuhan, namun tak seramai Pelabuhan Merak di tanah jawa. Disini gelap, kanan-kiri banyak pohon-pohon besar. Hanya satu dua lampu menerangi.
Jogjakarta, Senin 23 Januari 2012
Seminggu ini gue kedatangan temen-temen gue dari Jakarta.
Liburan semester gini anak-anak mainstream biasanya pada maennya ke Jogja, Bali, atau Bandung. maklumin aja, ketiga tempat itu emang tujuan wisata paling jos di Indonesia.
Tujuan wisata mainstream di Jogja apalagi kalo bukan Malioboro, Parangtritis, Prambanan, Borobudur, Kraton.
Nah, temen gue itu, yang jumlahnya 3 orang, namanya Eel, Kakek, sama Restu hari ini ngajakin ke Borobudur. Eel sama Kakek itu anak UI, kalo Restu anak Unhas.
Gue sebagai tuan rumah dan sekaligus- guide tanpa bayaran- mereka mau nggak mau kudu mau, musti nganterin mereka ke Borobudur
Kemarin mereka sama Radin udah maksa gue ke Parangtritis, kalian bisa baca ceritanya di Tebing Pantai Selatan sekarang mereka minta ke Borobudur
"Yelah, yelah...gue anterin!" Kata gue setelah Kakek berkali-kali 'maksa gue'
Radin hari ini udah balik ke Semarang. Soalnya tanggal 26 nanti dia harus balik lagi ke Bogor.
Akhirnya pagi itu gue sama ketiga temen gue berangkat.
Dari kontrakan gue di Monjali, kita naik Transjogja ke Terminal Jombor. Tarifnya 3000. [akhirnya nyesel juga sih gue, jaraknya cuma 2KM padahal. Mendingan jalan sih. huehue]
10 Menit, kena lampu merah sekali akhirnya gue sampai di Terminal Jombor.
3 hari berturut-turut gue ke Terminal ini, hahah.
Dari Jombor, ada bus yang langsung ke Borobudur, nama bus-nya lupa gue, tapi kalau kalian mau nyari, cari aja di bagian paling selatan terminal Jombor.
Bus itu tarifnya 10.000 per orang. Jadi kalo 4 orang, 40.000
Gue nyoba nawar-nawar harga sama Kondekturnya, berkali-kali dan....gagal. okay!
Busnya dari terminal Jombor belok kiri, lewat jalan Magelang, luruuuuuuuuuus terus. perbatasan Jogja-Jateng lewat, masuk kota Magelang, dan masih lanjut. Sampai ada tanda Ijo yang nunjukin Borobudur, belok kiri. Dari Jl. Magelang, belokan yang tadi masih masuk sekitar 15 KM baru sampe kompleks Candi.
Bus nggak berhenti di kompleks Candi, tapi masih diluar itu dan jaraknya ke candi sekitar 1/2 km. Ini sih triknya Pemkot Magelang, jadi penumpang bus dipaksa turun agak jauh dari candi, trus disana disediakan jasa angkut pake dokar, andong, atau becak tarifnya sekitar 5000-10.000, buat menghidupi warga sekitar candi.
Gembel packers kayak gue sama anak-anak sih mendingan jalan, lebih hemat 20.000 (5000 x 4)
Yah..sekitaran jam 11 gue sama temen-temen gue nyampe juga di kompleks Candi Borobudur.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)




.jpg)






