Tampilkan postingan dengan label asmaradhana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asmaradhana. Tampilkan semua postingan

Romance de Amour

|
Mungkin aku merindukan berdansa denganmu pada malam-malam penatku 
Mungkin aku merindukanmu untuk bercerita tentang sungai yang mengalir dan laut yang berirama
Mungkin aku merindukanmu untuk mendebat air, gunung, dan lautan. Manakah yang lebih indah daripada ketiganya?
Mungkin aku merindukan petikan romance de amour, pandora hearts, dan felitsa. Irama yang membawaku menyelami rasi-rasi bintang

Lalu aku merindukanmu saat pagi menjelang dan bayangmu semakin pudar
Lalu aku merindukanmu dalam delusi-delusiku
Dan waktu membuatmu semakin pudar sementara ingatanku tidak pernah beranjak

Bukannya semua singkat, 
seperti aku tidak benar-benar memiliki, tapi sekejapnya memandang aku bisa mengerti.

dan awan memudar. ombak berdentuman. pasir-pasir kecil
orang-orang bertelanjang dada. mencari sesuatu yang hilang

Jakarta.

|


Kekal hanya masalah sudut pandang saja. Mungkin bagimu, kala itu hanya satu dua jam saja. Sesuatu yang sifatnya terhitung dan selesai. Tapi bagiku saat bersamamu, sesaat atau sedikit lebih lama dari itu sama-sama kekalnya. Jika kala itu (pertemuan) menjelma pada sebuah foto, maka di selembar foto itu aku mengekalkanmu. Cetak biru profilmu, bersatu dengan kenangan yang terus me-repetisi, membuat yang terhitung menjadi tak hingga.

Caraku mengekalkanmu, seperti saat kita menikmati hujan yang menderu, lalu menjadi rindu. Besok kita kehujanan lagi dan menjadi rindu. Lalu kita memulas kuas pada kertas. Menulis surat tanpa alamat yang tak tahu akan bertemu siapa pada halaman berapa. Maka selalu ada janji yang mesti ditepati, setiap turun hujan kita menulis surat. Satu fragmen dan repetisi itulah yang kemudian menjadi cikal bakal kekekalan.

Jadi, janganlah bersedih meninggalkanku. Karena aku telah mengekalkan fragmen-fragmenmu dan merepetisinya menjadi tak hingga. Seperti hari ini aku duduk dimana, dengan siapa, menghisap aroma apa. Yang aku tahu Jakarta adalah hujanku yang menderu dan menjadi rindu. Jakarta adalah tentangmu.

MARET

|
Pagi. Maret baru sepertiga jalan. Kota Pararaton masih dalam dekapan musim penghujan. Tidak siang tidak juga malam, hujan mengguyur seperti tak kenal waktu. Membuat si pemalas makin jadi malas untuk keluar rumah dan si tukang tidur semakin lelap dibuai suara rintik hujan.

Bagi mereka yang lebih rajin, atau karena keterpaksaan harus beraktivitas diluar rumah pasti merasakan ketidaknyamanan akibat cuaca buruk ini. Disana-sini becek. Saluran air meluap, meski tak membuat banjir namun kemacetan kecil seringkali terjadi. Orang-orang mengumpat. Tidak sabaran karena jalannya terhambat. Polisi lalu lintas ogah-ogahan mengatur pengendara. Bagaimana tidak, terlalu timpang bagi seorang dua orang polisi mengatur jalannya ribuan kendaraan. Apalagi saat pagi hari hujan macam ini, lebih enak juga ngopi di kantor sambil nonton berita di layar kaca.

Di sisi yang lain jalan, puluhan pejalan kaki mengibarkan payung-payung berusaha melindungi tubuh-tubuh mereka dari dinginnya air hujan. Terkisah diantara para pejalan kaki itu pemuda bernama Guntur. Dia selalu semangat, seperti kebanyakan pemuda yang menuntut ilmu di kota ini. Meski diterpa hujan sekalipun Guntur tak pernah bolos berangkat ke kampus. Dia lumayan rajin untuk hal ini.

Guntur pagi ini hanya ada satu mata kuliah. Lepas itu dia akan menemui kekasihnya, Azalea. Menghabiskan waktu selama hujan dan menunggui reda bersama kekasih. Apa hal yang lebih baik daripada itu?

Maka Guntur saat ini berada dalam jamaah pejalan kaki yang mengibarkan payung. Ia berjalan santai dan mengenakan payung hitam menuju sebuah kafe yang telah dijanjikan Azalea. Ia tahu betul kafe itu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama disana.

Tidak jauh, hanya perlu berjalan kaki 15 menit dari kampus untuk menuju kafe yang dimaksud. Selama perjalanan itu Guntur membayangkan wajah Azalea yang dikaguminya. Azalea yang memiliki paras sempurna. Azalea yang selalu ceria. Yang senyumnya bahkan mampu membuat detak jantung Guntur berlari tak karuan.

Mereka memang sudah pacaran. Hampir 3 bulan mereka jadian. Hari jadi mereka ditandai dengan rinai hujan rintik saat mereka menunggu terang di kafe yang sama. Suasananya hampir sama seperti pagi ini.

Hal itulah yang membuat Guntur selalu semangat menjalani hari-harinya. Begitu pula pagi ini. Dia riang sekali seolah-olah tak memiliki beban, meski tanggungan paper 10 lembar dari dosen belum selesai dan waktu pengumpulannya tinggal besok. Tapi peduli amat, yang penting Guntur bisa bertemu Azalea, itu lebih dari segalanya.

Guntur memang sangat menyayangi Azalea. Hidupnya bebrapa bulan ini mungkin hanya dihabiskan untuk Azalea. Dia tak pernah sekalipun menolak permintaan Azalea. Dia tak pernah berkata “tidak” pada Azalea. Guntur bersedia memberi segalanya pada Azalea. Guntur sangat tergila-gila pada Azalea.

Sampailah dia didepan kafe. Terlihat kekasihnya sudah menunggu di sudut kafe dekat jendela, tempat terbaik menunggui hujan reda. Guntur meletakkan payung hitamnya di tempat payung di depan kafe itu, mengibas-ngibaskan pakaiannya dari kebas air hujan. Dan melangkah dengan tenang menuju tempat Azalea menunggu.

APRIL

|
Raung duduk bersila diatas sebuah batu. Memandang sabana luas menghijau yang ada puluhan meter dibawahnya. Rerumputan padang sabana itu tertata rapi, seolah tiap hari disiangi, dirawat, dipupuk. Terlihat indah seumpama permadani, eksotis namun alami. Puluhan, ratusan pohon edelwais menghiasi hijau sabana dengan bentol-bentol warna putih. Sedang mekar rupanya kembang keabadian itu. 

Jauh di seberang sabana itu, awan putih memenuhi selimut langit yang semula berwarna biru. Membungkus sabana hijau dengan garis batas yang amat jelas. Bentuknya magis, seolah-olah kapas raksasa sengaja ditebar petani randu.
Berjalan pelan awan-awan itu mengantarkan bibit-bibit hujan ke saentero kota. Kemudian setelah terlalu berat bebannya, ia akan menjatuhkan titik-titik air. Memenuhi sungai, ladang padi, hutan, bendungan. Kemudian berjalan ke lautan lepas dan menguap lagi menjadi awan. Siklus keagungan Tuhan yang diperuntukkan bagi mereka yang berpikir.   
Di balik awan putih itu, sekitar 50 kilo jauhnya dari tempat Raung duduk saat ini terlihat puncak gunung paling aktif di dunia. Hanya puncaknya saja yang terlihat, sementara sebagian besar badannya tertutup selimut awan. Terlihat anggun, damai, dan tenang. Padahal hitungan dua tahun yang lalu gunung itu membunuh ratusan nyawa penduduk yang tinggal dilerengnya. Gunung yang satu itu memang memiliki kebiasaan rutin menyemburkan lava pijar, kemudian menjadi tenang untuk beberapa tahun dan bergolak lagi ditahun yang keempat. Biasanya seperti itu.
Angin pagi gunung Limohan melewati tubuh Raung. Berlalu dalam tenang dan meninggalkan dingin. Rambutnya berkibar kesana-kemari. Raung malah menikmatinya. Basah dan dinginnya angin gunung bagi Raung merupakan kenikmatan yang tiada duanya. Dia selalu mencari saat-saat seperti ini.
Ditariknya nafas dalam-dalam, dimasukkannya seluruh udara hingga kantung paru-parunya penuh. Kemudian dikeluarkannya udara dingin itu secara perlahan. Hingga habis dan ia menarik kembali udara segar yang tak terhingga. Aih. Inilah kenikmatan paling besar dalam hidupnya. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Raung masih duduk ditempatnya. Dia sedang berada di ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut. Ini ketigabelas kalinya Raung naik gunung, dan ini adalah keempat kalinya dia berada di gunung ini, Gunung Limohan. Di setiap pendakian, dia tidak pernah berambisi menaklukkan puncak. Yang dia rindukan hanyalah kesejukan dan kemagisan angin gunung yang tidak dia temukan di belantara kota Pararaton.
Kesejukan yang membuai. Membuat Raung matanya jadi riyip-riyip. Dia masih bersila, tapi kesadarannya mulai menghilang. Dia terlalu menikmati kesejukan ini dan hampir saja ia tertidur dibuai angin pagi gunung Limohan. Suara dari kejauhan yang memanggil namanya membuat Raung kembali ke dunia nyata.

|
Selamat malam kamu, selamat berjumpa dengan Muhammad
Selamat menemuinya di sabana penuh rahmat pada langit-langit kakbah
 

Berceritalah padanya tentang Alamnasroh.
Tanyakan padanya tentang firman ke-30 dan teguhkan semua keraguanmu.
Tanyakan pula syafaat yang digulirkan pada ayat yang berpasang-pasangan.
 

Lalu berkencanlah dengannya sampai kau mencandu dalam cawan merah jambu malaikat Jibril.
Sampai kau mabuk pada makrifatNya.
 

Lalu pahamilah, bahwa semoga-semoga itu nyata adanya.
Bukan lagi ilusi pada malam-malam dalam tulisan penuh kegelisahan, atau pada pahatan yang tergurat di tiap-tiap kebimbanganmu.

Crinum Asiaticum Linn 3

|

Kamu bunga bakung kesukaanku.
Yang tumbuh di tepian sungai-sungai teduh
Yang paling indah diantara rerumputan dan bunga-bunga edelweis
Mekar di pegunungan diatas permukaan laut
Dilindungi sabana dan pokok pinus.

Kamu bunga bakung putih yang dipuja
Dikagumi, disirami lembaran hujan.
Kelopaknya dilambai-lambaikan angin
Elok menawan, mencuri hati para pendaki.

Ingin setiap pendaki adalah memetikmu
Tapi terlarang seorang pendaki memetik kembang gunung
Bisa dimarahi tuan penjaga hutan.

Aku tidak perlu memiliki bunga bakung putih
Buatku sendiri bunga bakung putih nampak lebih asri kalau dipandang dari kejauhan
Bukan dimiliki dan di tandur di pekaranganku sendiri
Apalagi untuk penghias ruang tamu, sebagai bagian dari yang disombongkan.

Sayangnya bunga bakung putih itu tidak lagi kutemukan di jalur pendakianku.
Mungkin sudah rimpil daun-daunnya
Atau mati layu karena kemarau kepanjangan
Atau seorang pendaki bodoh memetiknya untuk kesenangan
Entahlah, kurasa kemungkinan terakhir adalah kebenaran

Aurora Borealis

|

Perasaan itu semakin mengganggu saja
menyusup langit-langit kamar
membayang di setiap sudut-sudut
dan kemudian membuatku merasa bodoh

Kamu memang menyebalkan.
Satu yang membuatku penasaran.
Yang mencandu hari-hariku untuk terus membayang parasmu.
Membuat pacuan jantung lari kemana-mana.
Tak terkendali apalagi saat menatapmu.

Kamu memang menyebalkan.
Menghampiri dan menodongkan harapan.
Kemudian berlalu tanpa kata.

fiore

|

(Radin Bahrul Alam)
Apalah artinya kau kenali cinta sedang aku tiada kenal cinta. hanya mau menyakiti kehendak saja. lantas bila aku berjalan dan kau halangi maka apa ada masalah. ada selalu sebuah penyakit cinta yang kronis. menimbul mala dan petaka bagi ku. apa aku berjalan sedang kau mengikatku dengan rantai rantai yang searah. apakah ada jalan keluar selain berjalan terseok seok. seperti kambing di ikat di lapangan.

aku ingin melihat bebas. jangan ada rasa terikat dahulu. aku tahu perasaan bisa saja luntur. semua bisa saja hilang mbelenjing sampai utara jauh. sampai mata bertemu mata tiada lihat lagi. sebuah epos yang menyedihkan dari brataydha ketika harjuna khianat dengan sinta yang memilih pati obong sebagai jalan keluarnya. jangan ada segala pernyataan bila kau tidak sanggup menerima kekalahan cintamu. anggap saja ada batu yang hilang bila ada yang terlepas dari ku kepadamu.

Jusybf Wkwfu

|


owelallb ury awnljub nwbfflbffy alhl
nwbtyayo klbfur-klbfur jlnle
nwnvltlbf su awrulo aysyr-aysyr
slb jwnysulb nwnvylrjy nwelal visig

jlny nwnlbf nwbtwvlkjlb
alry sleu awsujur tlbf nwnvylrjy owblalelb
alry tlbf nweivwj ewjlrlb glru tlbf klnl jyryryo
tlbf nwnvylr gleu-gleujy rwevylu

lol olalk,
rwbry alhl jlebl olelany tlbf nweibrijjlb,
vlgjlb glru tlbf nlruoyb rwefyflg jwnvlku
hyfl awbtyn tlbf nwbwblbfjlb ury
slb nlrl vwale tlbf rwfla,


jlny nwnlbf nwbtwvlkjlb
ruslj hyfl jlny nwnlglnu vlgql awawielbf nwnujuejlbny
awawielbf nwnoweglrujlbny sleu jwhlyglb

nwnlbf jlrl vyjlb owelbflujy
jlewbl uatlelr kwvug slkln nljblbtl

glbtl alhl rlj awnyl ubalb nwnlglnu uatlelr
rwenlayj jlny awvlfulb tlbf jynljays

nljl awsujur jlrl jwnysulb jyyxlo
jyjlrl suswolbny
vlgql jly eyolqlb rulsl xwkl
awblbfbtl vyjlb nlub, jlewbl ljguebtl ljy vual nwnyhuny

tltl, jyljyu jly xlbrujbtl nwbflklgjlb swqu rlel
lol oweky sujlrl, hujl nwnlbf swnujulb lslbtl

blnyb jly vwefwnubf, nwbflbfflo klky awsujur oyhulb ury
jwnysulb jlny rwerlql
nwbtualjlbjy tlbf awnljub alklg rubfjlg su swolbny

jlny nwnlbf nwbtwvlkjlb

diantara...

|

Hahah...
Lagi-lagi Dia memberiku
Sebuah alur yang tak terduga.

Ketika petualanganku bermuara di sebelah,
Ketika aku menemukan kepingan puzzle yang mungkin milikku
Baru kulihat-lihat awalnya, apakah iya ini rangkaianku apa bukan?

Belum kucoba mencocokkan puzzle ini
Bahkan kusentuhpun belum.
Baru juga kureka-reka...

Eh...
Dia seenaknya saja menambah peranku.
Dia memberikanku dia yang ternyata lama mencariku.
Dia menambahkan dia sebagai alur independen dalam perjalanan.

Crinum Asiaticum Linn 2

|

Ini perjalanan yang sulit
Mencintaimu sedang aku lemah
Bukan termasuk cerita
Bila aku mati hatinya
sedang ragaku bebas

(Radin Bahrul Alam)


Ketika aku memutuskan berhenti sejenak dan berpaling pada kota ini, aku meyakini garis takdir turut mengikuti langkahku. Pun ketika aku bertemu Crinum Asiaticum Linn, itu bukan merupakan suatu kebetulan belaka.
Kuceritakan tentangnya,

Pagi itu aku terdampar di kota ini. Bersama kereta tua yang lelah, stasiun yang padat, dan cuaca yang tidak bersahabat.
Pagi dan kehidupan dimulai.
Semua orang keluar dari rumah.
Mengais rezeki, mengais ilmu.
Atau sekadar menjalani rutinitas.
Aku sebagai bagian dari dunia yang gersang ini kemudian berjalan ke tempat itu. Aku sebut saja ruang rindu. Aku menunggu disana, untuk kelanjutan petualanganku yang baru.
Entahlah. Mimpi semalam membuatku memutuskan untuk menunggu di kota ini.
Menunggu giliran pertunjukan drama cerita dunia.
Dan aku sebagai aktor, mengikuti aliran kisahnya, hingga diberikan instruksi dan kumainkan instrumennya. Kresendo.
Dan layar selesai, peranku berganti.
Parodi kekacauan dunia kemudian ditampilkan. Tangis dan tawa. Peperangan. Konspirasi. Politik. Kriminalitas.
Petikan iramanya rancu. Nadanya sumbang.
Jenuh.

Rhyme I

|

Crinum Asiaticum Linn

|




Terlalu anggun rupanya engkau dicipta.
Sebayang-bayang pengelihatan ini.
Tiada kentara beda wajah dan senyumnya.
Terbaik adalah semampai indah.
Ku karya sedemikian rupa mata itu.
Semampai mampai indah bergemuh cerah.

Tiada tuan lukai hatimu.
Tiada sampai aku rela kehilanganmu.
Semampai mampai indah mata yang hijau permadi.
Sedari yang elok semampai-mampai.
Sedap di pikir sedap dirasa.
Aduhai belahan mata yang tak ada redup,
belahan manis di pipi jelita.
Oo.
Jelas saja mata tak berbusana.
Tapi hati yang bijak saja. Biar yang elok memang elok.
Yang baik ya emang baik.
Yang asri memang sungguh asri.
Apa ada muslihat. Sedang memang adanya.
 

Kidung Puspita Megatruh

|
Aku tidak akan genggam tanganmu, ku bebaskan helai rambutmu berkibar.
Aku biarkan kau memang, untuk terbang.
Bukan salahku melepasmu tempo hari.
Pada waktu yang singkat ini, telah kuisi catatan ini dengan cerita-cerita.
Sebagai pengingat, Sebagian pelengkap, untuk kamu, Sendu.

(Radin Bahrul Alam)

Gloomy Sunday-Rezső Seress

|


It is autumn and the leaves are falling
All love has died on earth
The wind is weeping with sorrowful tears
My heart will never hope for a new spring again
My tears and my sorrows are all in vain
People are heartless, greedy and wicked
Love has died!
The world has come to its end, hope has ceased to have a meaning
Cities are being wiped out
Meadows are colored red with human blood
There are dead people on the streets everywhere
I will say another quiet prayer
People are sinners, Lord, they make mistakes
The world has ended!!!

Ask Me Anything
Follow me on Twitter
Recommend me on Google Plus
feedback