"Gunung ini begitu magis Gin. Banyak hal yang tidak kamu ketahui. Banyak hal sangat membingungkan, banyak hal sangat menyeramkan. Juga ada kebudayaan unik yang mesti kamu eksplor. Tentang penduduk Kersik Tuo, Tentang mitos hobbit asli Kerinci, Suku Anak Dalam, perkebunan teh yang mengagumkan. Juga tentang penguasa rimba Kerinci Seblat. Harimau Sumatra. Jadi ini bukan sekadar pendakian." (Randy)
Siulak, Senin 1 September 2014
Aku sehari dua hari lalu bahkan tidak pernah memikirkan akan bermalam dan mengenal daerah bernama Siulak. Semua terjadi seperti arus. Dari satu orang aku mendatangi suatu tempat, bertemu orang dan diajak ke tempat yang lain. Di tempat itu aku kemudian mengikuti arus lagi. Sampai kepada sebuah tempat yang mungkin telah kami impikan sejak lama. Sebuah perjalanan dengan misi yang sama, meskipun dilalui dengan jalan memutar, membelok, menanjak, akan kami lalui. Sebuah petualangan para pria dengan berbagai karakter dan budaya. Semua dipersatukan oleh misi yang sama. Kerinci.
Siulak. Sebuah tempat yang sangat jauh, bukan destinasi wisata, bukan tempat-tempat bersejarah, mungkin. Hanya kecamatan biasa dengan kebiasaan yang khas. Sebuah tempat yang benar-benar aku tidak pernah mengenal atau berencana mendatangi sebelumnya.
Sekali lagi, mungkin aku akan tertawa suatu saat nanti. Bagaimana mungkin, di pagi ini aku terbangun, 300 km dari pembaringanku kemarin. 500 km dari pembaringanku dua hari lalu. Dan lebih dari 2000 km dari pembaringanku pekan lalu.
Tapi inilah petualangan. Semua hal bisa terjadi dalam petualangan. Semua keputusan diambil secara bijak dalam waktu yang singkat. Keputusan iya atau tidak, sekarang atau nanti menjadi sangat penting dalam mencapai sebuah tujuan pada petualangan.
Baiklah, aku tidak akan membicarakan itu lebih panjang.
Pagi ini kami sedang melakukan packing. Mengecek perlengkapan yang akan dibawa. Melengkapi yang sekiranya belum lengkap. Bang Randy dan Bang Mario dari setengah jam lalu belum kembali dari pasar. Mereka membeli tambahan logistik seperti air mineral, beras, telur, sarden, mie instan, dan beberapa botol spirtus untuk bahan bakar kompor trangia.
Akhirnya baru pada pukul 10.30 pagi semua perbekalan siap.
Sebelum kami berangkat, kami dibriefing sebentar oleh pamannya Badai. Beliau pernah mendaki Kerinci, meskipun itu sudah sangat lama, tahun 90an.
Beliau menjelaskan medan pendakian seperti apa, tempat nge-camp yang paling bagus di pos berapa, kemudian lama waktu pendakian, letak sumber air, serta estimasi jarak dari basecamp sampai puncak.
Beliau juga menjelaskan apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang selama mendaki Kerinci.
Terakhir beliau berpesan,
"Kalau bawa telur, atau apapun itu nanti sebaiknya dibungkus dengan rapat, jangan sampai ada bau menyengat yang keluar dari carrier kalian. Ingat, disana ada mitos yang sangat diyakini oleh penduduk Kerinci."
Beliau tidak membicarakan detail mengenai mitos tersebut. Kami juga sengaja menghindari percakapan mengenai mitos itu. Kami tidak akan membicarakannya disini karena itu bisa mengganggu petualangan kami dan membuat kami jadi tambah was-was serta takut tentu saja.
Tapi kami semua memahami bahwa mitos yang dimaksud adalah tentang orang pendek.